metal

June 30th, 2007 by flat-8

12 kebiasaan dari Survivor yng sukses…

Dalam suatu krisis, beberapa orang akan terbebani. Sebagian ada yang
menyerah untuk berharap, mengapa? Laurence Gonzales mempelajari ratusan dari
kasus-kasus yang menunjukkan sesuatu dengan tepat mengenai sikap dan strategi
dari beberapa orang yang menolak untuk mati. Saya (Laurence Gonzales) telah
mempelajari beberapa kecelakaan selama kurang lebih 30 tahun. Pertama, sebagai
pilot yang juga wartawan, saya berkonsentrasi pada kecelakaan pesawat terbang.
Kemudian, ketika ketertarikan saya beralih pada paddling, climbing dan
travelling ke tempat-tempat terpencil, saya mulai mempelajari beberapa
kecelakaan yang terjadi pada kegiatan alam terbuka. Silahkan Anda sebut saya
sebagai orang yang tidak berperasaan, tetapi bagi saya membaca laporan
kecelakaan-kecelakaan tersebut seperti membaca komedi bisu (bisu, karena
orang-orangnya sebagian besar meninggal). Saya mencari pengertian mengapa
beberapa orang meninggal dengan cepatnya dalam keadaan survive ini. Secara
mengejutkan, saya menemukan kengerian yang sama pada beberapa orang yang
bertahan hidup dalam keadaan sulit yang sangat ekstrim, kasus-kasus ini saya
sebut “deep survival.” Pada dasa warsa dan beberapa abad, terpisah melalui
budaya, geografi, ras, agama dan tradisional, beberapa survivor yang sukses
menunjukkan pola yang sama dari pikiran dan tindak tanduk yang mengarah pada
transformasi keagamaan yang sama dalam mempertahankan hidup mereka. Satu kali
kamu pernah melewati hujan salju, kapalmu karam atau kamu tersesat di hutan
atau tanganmu terjepit saat boulder, sebagian besar menyangkut mental, berikut
adalah cerita yang berhubungan dengan hal tersebut di atas, sebagian besar
adalah kisah sebenarnya yang pernah dialami oleh beberapa survivor yang
berhasil kembali dari perjalanan yang hampir membuat mereka mati.

ATURAN PENYELAMATAN DIRI DALAM KEADAAN BERBAHAYA

1. PERCAYA DIRI
Orang yang dapat menyelamatkan diri tidak terjebak pada perangkap ketakutan
yang mematikan, yaitu ketakutan yang tidak termobilisasi atau penyangkalan
terhadap ketakutan. Banyak orang yang seharusnya selamat dalam tragedi

World

Trade

Center

pada tanggal 11
September 2001 tewas, karena mereka hanya diam dengan patuh untuk menunggu
pertolongan dan bukan berusaha untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Dan
banyak diantara mereka yang dikuasai rasa panik. Panik disini tidak selalu
berarti berlari kesana-kemari dengan menjerit-jerit, namun bisa berarti diam
dengan tidak melakukan apapun .

Para

penyelidik kecelakaan pesawat sering menemukan bahwa para penumpang ternyata
ditemukan mati dengan keadaan masih terikat erat di tempat duduk mereka. Orang
yang dapat menyelamatkan diri sebaliknya menyadari keadaan mereka, “Saya
benar-benar dalam keadaan yang membahayakan diri saya dan saya akan berusaha
untuk menyelamatkan diri saya.” Dalam

lima

menit pertama sejak kecelakaan terjadi, sang korban dipenuhi dengan
pemikiran-pemikiran yang penting. Presepsi dan fungsi kognitif seseorang yang
dapat menyelamatkan diri berada dalam tingkat yang tinggi saat ia menghadapi
bahaya. Dengan dipacu oleh ancaman atas nyawanya, seseorang yang dapat
menyelamatkan diri mengetahui keadaan sekitar mereka sampai ke hal-hal yang
terkecil, selain itu merekapun meyakini naluri mereka. Joe Simpson, seorang
pemanjat tebing dari Inggris yang baru saja menjejakkan kaki di gunung
berketinggian 21.000 kaki di negara Peru, terjatuh dan mengalami patah kaki.
Hal pertama yang muncul dalam benaknya adalah mungkin dia hanya keseleo. Tetapi
beberapa saat kemudian dia berkata pada dirinya sendiri,”Kakiku patah, aku akan
mati.” Orang yang dapat menyelamatkan dirinya tidak menyangkal kebenaran. Hanya
dengan menyadari luka yang dia alami, Simpson mampu untuk menjalani tantangan
yang mengerikan di hadapannya.

2. TETAP TENANG
Dalam keadaan yang kritis, orang yang dapat menyelamatkan diri tidak dikuasai
oleh rasa takut tapi mereka akan memanfaatkan rasa takut tersebut. Rasa takut
yang mereka rasakan seringkali berubah menjadi rasa marah yang akan memotivasi
mereka dan membuat mereka dapat berpikir dengan cerdik. Aron Ralston, seorang
pemanjat gunung yang harus memotong tangannya untuk melepaskan diri dari batu
besar yang telah menjepitnya di sebuah lembah celah di

Utah

, semula menjadi panik dan membantingkan
tubuhnya ke batu yang telah menjepit tangannya. Tapi dia segera berhenti
melakukan hal tersebut dan menarik nafas panjang untuk kemudian memperhatikan
pilihan-pilihan yang dia miliki. Dia menghabiskan waktu hingga

lima

hari untuk dapat
meyakinkan dirinya untuk menentukan apa yang harus dia lakukan untuk dapat menyelamatkan
dirinya. Seseorang yang dapat menyelamatkan dirinya sangat mneyadari bahwa
mereka harus tetap tenang. Mereka harus berusaha menghindar dari emosi ingin
memberontak yang terlalu meluap-luap. Dan dengan menghadapi keadaan genting,
mereka juga dapat mengatasi penderitaan yang mereka rasakan dengan baik. Dalam
buku In Touching The Void, Joe Simpson mengungkapkan penderitaan yang dia
hadapi di

Peru

.
Dia menulis bahwa dia dapat “menyesuaikan diri dengan rasa sakit terus menerus
yang dia rasakan” yang disebabkan oleh kakinya yang terluka dan patah yang
menjadi penghalang baginya untuk dapat menuruni gunung tersebut. James
Stockdale, seorang pilot tempur yang ditembak jatuh di Vietnam dan menghabiskan
waktu delapan tahun di Hanoi Hilton, julukan bagi camp penjaranya, yakin bahwa
“dengan membiasakan diri dengan rasa sakit” adalah alat yang paling penting
bagi orang yang dapat menyelamatkan dirinya, “Anda harus mengalami rasa sakit.
Tidak boleh ada kata tidak.”

3. BERPIKIR, MENGANALISA, MERENCANAKAN

Orang yang harus menyelamatkan diri dalam jangka panjang dengan cepat akan
engorganisir, menentukan rutinitas yang harus mereka lakukan dan menetapkan
disiplin. Dalam kelompok orang-orang yang sedang menyelamatkan diri, akan
muncul seorang pemimpin. Seorang yang menyelamatkan diri seorang diri
seringkali mengisahkan bahwa mereka mendengar sebuah suara yang mengendalikan
situasi mereka. Sementara fenomena mendengar suara dapat mengindikasikan
turunnya kondisi mental di dalam kedaan tertentu, hal tersebut juga mudah
dijelaskan dalam dua fungsi otak : emosi dan akal. Dalam kasus-kasus tertentu
dengan bahaya yang sangat fatal, emosi seringkali mengambil alih. Tapi seorang
yang dapat menyelamatkan diri mengesampingkan emosi dan membiarkan akal yang
bekerja dan mereka membuat diri mereka menjadi dua pribadi yang berbeda dimana
mereka akan melaksanakan ide yang menurut mereka masuk akal. Steve Callahan,
seorang pelaut dan pembuat kapal, sedang dalam pelayaran tunggal di samudera
Atlantik di tahun 1982 saat kapalnya tiba-tiba mengalami masalah dan mulai
tenggelam. Terombang ambing selama 76 hari di atas sebuah sekoci seluas lima
kaki, dia melakukan pelayaran penyelamatan dirinya dengan dipimpin oleh seorang
“kapten” yang memberi perintah kepadanya dan menjaganya di saat dia sangat
membutuhkan air minum. Bahkan saat dia ingin memberontak. “Kapten”nya dengan
rutin melatih “kru” tersebut. Sehingga dalam kendali yang sangat ketat ini dia
mampu menyingkirkan pikiran bahwa situasinya tidak mempunyai harapan. Dia harus
terombang-ambing sejauh 1800 mil di dataran Karibia dan mengambil
langkah-langkah pertama yang harus dilakukan dengan pikiran yang jernih dalam
mencapai penyelamatan dirinya, juga menganalisa situasinya dan memformulasikan
perencanaan yang akan dia jalani.

4. MENGAMBIL TINDAKAN
Orang yang menyelamatkan diri mau mengambil resiko untuk menyelamatkan diri
mereka dan orang lainnya. Namun mereka pun berani dan menyadari apa yang akan
mereka lakukan. Callahan tidak mengerti mengapa kapalnya yang kecil tiba-tiba
dipenuhi dengan air, mungkin terbentur oleh ikan paus. Tapi saat kapal tersebut
mulai tenggelam dia tidak hanya diam memandang kapalnya dengan rasa tidak
percaya. Dengan mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan diri, dia masuk ke
dalam kabin yang gelap dan telah dipenuhi air untuk dapat mengambil
barang-barangnya yang berharga. Dia muncul kembali dengan membawa “tas
alat-alat darurat” berisi survival gear dan sleeping bag nya yang basah, dimana
jika tanpa alat-alat tersebut dia tidak dapat menyelamatkan dirinya. Lauren
Elder, adalah satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan pesawat di
dataran tinggi Sierra,

California

.
Terdampar di puncak dengan ketinggian 12.000 kaki, dengan satu lengan yang
patah, dia dapat melihat lembah Saint Joaquin di bawahnya, tapi dia terpisah
oleh alam liar yang luas dan tebing es yang menyeramkan. Dengan hanya
mengenakan rok panjang, sebuah kemeja, dan sepatu boot dengan hak setinggi dua
inci, dia merangkak “dengan kedua tangan dan kakinya” seperti yang dia katakan
kemudian, “menjaga keseimbangan di antara lempengan es, meninju dengan tangan
dan kakinya.” Dia harus memanjat tebing selama 36 jam, suatu hal yang tampak
mustahil baginya. Namun Elder hanya memikirkan batu yang didepannya selangkah
demi selangkah. Orang yang dapat menyelamatkan dirinya dapat memecahkan apa
yang mereka lakukan setahap demi setahap sesuai dengan apa yang dapat mereka
lakukan. Merekapun terobsesi untuk dapat melakukannya dengan baik (Elder selalu
menguji terlebih dahulu setiap pijakan yang akan dia lewati sebelum dia
melangkah maju dan sering mengambil waktu untuk beristirahat. Orang yang dapat
menyelamatkan diri berusaha hanya membuat sedikit kekeliruan. Mereka hanya
melakukan apa yang sesuai dengan kekuatan mereka dalam waktu tertentu dari jam
ke jam dari waktu ke waktu.

5. RAYAKAN KEBERHASILAN ANDA

Orang yang dapat menyelamatkan diri akan mendapatkan sukacita yang luar biasa
dengan pencapaian yang mereka raih, sekecil apapun itu. Hal tersebut dapat
menghindarkan mereka dari rasa putus asa yang mematikan dan menjaga mereka
untuk terus termotivasi. Sukacita juga melepaskan diri mereka dari stuasi yang
mengancam yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Elder berkata bahwa
saat telah berhasil menuruni lereng es pertama, dia memandang ke atas lereng
tersebut dan hampir tidak percaya atas apa yang telah dia lakukan, dia berkata
pada dirinya sendiri, “Lihat apa yang telah kamu lakukan.” Saya berseru keras
hingga terdengar hingga ke lereng di bawah saya. Bahkan dengan lengannya yang
patah, Elder merasakan rasa senang yang luar biasa menjadi teman setianya dalam
perjalanannya untuk menyelamatkan dirinya. Hitunglah apa yang kamu miliki, kamu
masih tetap hidup.

6. JADILAH ORANG YANG MENYELAMATKAN BUKAN MENJADI KORBAN
Orang yang menyelamatkan diri selalu melakukan hal yang sama bagi orang lain,
bahkan jika orang tersebut berada ratusan mil jauhnya. Saat penulis Antone de
Saint Exupery terdampar di gurun

Libya

setelah pesawat ekspedisinya
mengalami kerusakan mesin, dia memikirkan apa yang akan terjadi dengan istrinya
jika dia menyerah dan tidak kembali.
Yossi Ghinsberg seorang pendaki gunung kebangsaan

Israel

,
tersesat di hutan

Bolivia

lebih dari dua minggu setelah terpisah dengan teman-temannya. Dia berhalusinasi
bahwa dia ditemani seorang wanita cantik yang selalu menemaninya setiap malam
dalam perjalanannya. Apapun yang dia lakukan, dia lakukan bagi wanita tersebut.

7. MENIKMATI PERJALANAN UNTUK MENYELAMATKAN DIRI
Nampaknya hal ini bertolak belakang dengan keadaan yang ada, namun dalam
situasi yang paling sulitpun, orang yang dapat menyelamatkan dirinya menemukan
sesuatu yang dapat dinikmati, sesuatu yang dapat dia lakukan. Penyelamatan diri
dapat berarti penantian yang membosankan menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Elder tertawa terbahak-bahak saat dia menyadari betapa dia takut bahwa
seseorang akan melihat ke dalam roknya saat dia memanjat tebing. Bahkan saat
kapal Callahan tenggelam, dia hanya berhenti tertawa saat dia harus menyelipkan
pisau di mulutnya saat harus menaiki rakit seperti seorang bajak laut. Uji coba
yang dilakukan dengan bermain dalam kedaan yang genting juga akan menghasilkan
penemuan dan penemuan akan menghasilkan teknik atau strategi yang baru yang
akan menyelamatkan anda. Saat melewati tebing yang hampir vertikal di

Peru

,
Joe simpson menciptakan irama saat dia mengayunkan kapaknya, menjatuhkan
tangannya yang lain ke atas permukaan es dan lalu melakukan lompatan yang
mengerikan dengan kakinya yang masih sehat. “Saya dengan cermat terus
mengulang pola irama tersebut,” tulisnya, “Saya mulai merasa terlepas dari
keadaan di sekeliling saya.” Menyanyi, membayangkan permainan, mengingat puisi,
menghitung dan mencoba menemukan solusi matematika yang sulit, akan membuang
rasa jenuh karena menunggu dan akan membuat situasi jadi lebih menyenangkan,
bahkan saat ada rasa takut yang mengancamnya. Di dalam penjaranya, James
Stockdale menulis, “Orang yang melewati tragedi seperti ini dengan banyak puisi
yang dapat diingat adalah orang yang mempunyai karunia.” Orang yang dapat
menyelamatkan diri mengatur masa kritis yang dia alami hampir seperti seorang
olahragawan dengan olahraga yang dia tekuni. Mereka terikat pada jimat-jimat.
Mereka menemukan hal yang hanya dirasakan oleh seorang yang ahli, “zona” dimana
emosi dan akal saling seimbang untuk menghasilkan satu tindakan yang dapat
berubah-rubah.

8. MELIHAT KEINDAHAN

Orang yang menyelamatkan diri terpesona dengan keajaiban dunia mereka,
khususnya saat menghadapi bahaya kematian. Ungkapan kekaguman akan keindahan,
perasaan terpesona, membuka kesadaran akan keadaan di sekitar mereka (saat anda
terpesona oleh sesuatu yang indah, pupil mata anda akan membesar). Debbie Kiley
dan empat orang lainnya terombang ambing di lautan Atlantik, setelah kapal
mereka tenggelam dalam badai pada tahun 1982. Mereka tidak mempunyai persediaan
makanan, tidak mempunyai air minum dan dapat saja mati. Dua orang diantara
mereka meminum air laut dan mulai menjadi gila. Ketika salah seorang dari
mereka melompat dari papan ke laut, segera dia dimakan oleh ikan hiu di bawah
papan mereka. Kiley merasa jika dia memandang terus ke laut, maka diapun dapat
menjadi gila, maka dia berkata pada dirinya sendiri, “Lihat ke langit, disana
tampak sangat indah.” Saat pesawat Saint Exupery terjatuh di gurun, dia
menyadari bahwa dia dalam bahaya, namun dia berkata dalam hati : “Disini kita
berada, akan mati, namun kematian tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan
yang saya rasakan. Sukacita yang saya dapat dari setengah buah jeruk yang saya
genggam adalah sukacita yang terbesar yang pernah saya rasakan.”

9. MENYERAHKAN DIRI DAN BERDO’A
Ya, anda pasti akan mati. Dalam kenyataanya, anda akan mati, semua orang akan
mati walaupun mungkin tidak harus hari ini. Di hari ketiga saat dia terjepit di
dalam jurang, Ralston telah kehabisan makanan dan air minum dan dia tahu bahwa
dia akan mati jika dia tidak dapat melepaskan dirinya. Namun hal tersebut
membawanya menjadi tenang bukan menjadi merasa menderita. “Saya menerima
kematian dengan rasa damai,” katanya. Dalam berbagai cara, fase perjalanan
penyelamatan bersama berhubungan dengan tahap-tahap kematian dijelaskan dalam
buku yang terkenal On Death and Dying (Dalam Menghadapi Kematian) ditulis oleh
Elizabeth Kublerloss adalah penyangkalan, kemarahan, penawaran, depresi, dan
penerimaan. Hanya dengan menerima kematian, banyak orang yang menyelamatkan
diri mengatakan bahwa mereka mampu untuk berjuang dan bertahan hidup. Salah
seorang psikolog dalam hal penyelamatan diri menyebutkan “Menyerahkan tanpa
menyerah. Penyelamatan diri dilakukan oleh orang yang menyerahkan diri.”

10. YAKIN BAHWA ANDA AKAN BERHASIL
Dalam perjalanan tahap selanjutnya, orang yang menyelamatkan diri mendapat
semangat dari keyakinan bahwa dia akan selamat. “Selama dua hari berakhir pada
saat saya terjepit di jurang,” kenang Aron Ralston, “Saya merasa sebuah energi
yang sangat meningkat
memasuki diri saya walaupun waktu itu saya telah kehabisan makanan dan
minuman.” Segera setelah itu, dia menemukan kekuatan untuk memotong tangannya
yang telah mati. Elder juga menemukan kekuatan ketika waktu terus berjalan :
“Saat itu seolah-olah saya telah mendapatkan energi yang tidak ada batasnya.”

11. LAKUKAN APAPUN YANG PERLU DILAKUKAN
Elder memanjat dan menuruni tebing es dan batu karang tanpa alat-alat dan
pengalaman. Simpson menyeret kakinya yang patah sejauh bermil-mil untuk kembali
ke posnya. Ralston memotong tangannya sendiri untuk membebaskan dirinya. Orang
yang menyelamatkan diri memiliki apa yang disebut para psikolog sebagai
pengetahuan-meta: Mereka mengetahui kemampuan mereka, dan tidak merendahkan
atau melebih-lebihkannya. Mereka yakin bahwa segala seuatu adalah mungkin dan
karena itu mereka harus bertindak. Mereka seringkali mengucapkan sebuah mantera
untuk menolong mereka, saat Yossie Ghinsberg hilang di hutan Bolivia, ia
menuliskan,”Ketika saya putus asa, saya membisikkan mantera di telinga saya
“Lelaki sedang beraksi, lelaki sedang beraksi, ” saya tidak tahu darimana saya
mendapatkan kata-kata tersebut…saya ulangi terus kata-kata tersebut : `Seorang
lelaki yang beraksi dapat melakukan apapun yang harus dia lakukan dengan tidak
takut dan khawatir.’”

12. TIDAK PERNAH MENYERAH
Saat kantung oksigen Apollo 13 meledak dalam perjalanannya ke bulan pada tahun
1970, tampaknya kru yang ada dalam pesawat itu berada di ambang kematian.
Komandan James Lovell memutuskan untuk terus menyampaikan semua data ke pusat
kendali bahkan jika pesawat tersebut terbakar dalam perjalanan ulang. Callahan,
Elder, Ghinsberg, Kiley, Ralston, Saint Exupery, Simpson, Stockdale –semuanya
sama-sama menentukan dan mengetahui kebenaran akhir ini – jika kamu tetap
hidup, masih ada yang dapat kamu lakukan. Orang yang menyelamatkan diri tidak
mudah dilemahkan oleh kemunduran. Saat mereka merasa bimbang, mereka akan
mendorong diri mereka untuk melakukan sebuah proses dari awal kembali. Mereka
menjaga diri mereka untuk tetap bersemangat dengan mengembangkan sebuah
alternatif yang diciptakan dari daya ingatan yang kaya, dimana mereka dapat
menyelamatkan diri. Merekamelihat kesempatan dalam kesengsaraan. Dalam keadaan
yang buruk, orang yang dapat menyelamatkan diri dapat belajar dan menyukai uji
coba yang mereka alami. Elder mengatakan, “Saya tidak akan menjual perjalanan
yang saya alami dengan apapun. Bahkan kadang-kadang saya merindukannya. Saya
merindukan kejelasan dalam mengetahui dengan tepat apa yang harus saya lakukan
selanjutnya.” Mereka yang dapat menyelamatkan diri dari bahaya dunia ini, baik
itu dalam permainan, bisnis ataupun perang,melalui penyakit atau tragedi akan
melakukannya melalui suatu perubahan. Tetapi hal tersebut tidak muncul begitu
saja saat dibutuhkan. Hal tersebut muncul dari pengalaman seumur hidup, sikap
dan tindakan yang kita lakukan yang membentuk kepribadian seseorang, pusat
dimana kekuatan yang dibutuhkan bersumber. Pengalaman penyelamatan diri adalah
anugerah yang tidak dapat dibandingkan, dan akan menunjukkan siapa sebenarnya
anda.

Sumber : Adventure 2003